Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Maret 2012

Wasiat Rasulullah; Janganlah Engkau Marah




Alhamdulillah segala puji bagi Allah atas segala limpahan karunia dan nikmat-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, para sahabatnya serta orang-orang yang beristiqamah mengikuti ajaran beliau hingga hari kiamat.

Sahabat fillah yang berbahagia..

Marah merupakan salah salah satu tabiat manusia, seseorang tidak mungkin terlepas darinya. Bahkan Rasulullah pun pernah marah, namun tentu berbeda dunk marahnya beliau dengan marahnya kita, beliau hanya marah apabila kehormatan syariat islam yang mulia dinodai/dilanggar. Sedangkan kita..? tau sendirilah… :D

Marah adalah sifat yang lumrah dan manusiawi, namun tidak semua sifat marah itu dianggap lumrah dan sah. Apabila kita marah ketika melihat sebuah pelanggaran atau kemaksiatan maka itu adalah marah yang terpuji, akan tetapi jika kita marah karena memperturutkan hawa nafsu semata maka itu adalah marah yang tercela dan marah yang terlarang.

Pada suatu hari ada seseorang yang meminta wasiat kepada Rasulullah, lantas beliau pun mewasiatkan dengan bersabda “Janganlah engkau marah”. Orang tersebut rupanya masih belum puas dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah, dan ia pun kembali mengulangi permintaannya terhadap Rasulullah hingga beberapa kali, namun Nabi tetap memberikan wasiat kepadanya dengan jawaban yang sama “Janganlah engkau marah.” Hal ini sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم: أوصني, قال: "لا تغضب", فردد مرارا, قال: "لا تغضب". رواه البخاري

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwasanya ada seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi “Beikanlah aku sebuah wasiat” beliau pun menjawab: “Janganlah engkau marah”, orang tersebut mengulangi (permintaannya) hingga beberapa kali. Nabi Muhammad (tetap) bersabda “Janganla engkau marah.” (HR. Al-Bukhari: 5765)

Sahabat fillah..

Lihatlah bagaimana Rasulullah memberikan sebuah wasiat kepada salah seorang sahabatnya dengan sabdaanya “Janganlah engkau marah”, sebuah wasiat ringkas namun memiliki nilai urgentitas yang tinggi, mengapa? Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa wasiat adalah sebuah pesan penting yang ditujukan kepada seseorang, dan mayoritas sebuah wasiat disampaikan oleh seseorang yang akan menemui ajalnya.

Dalam riwayat tersebut di atas Rasulullah tidak berwasiat dengan wasiat takwa sebagaimana Allah mewasiatkan umat manusia dengannya dalam ayat-ayat-Nya yang mulia didalam Al-Qur’an. Pada saat itu beliau beralih kepada wasiat lain yaitu sabdanya “Janganlah engkau marah.” Ini juga menunjukkan akan pentingnya wasiat beliau tersebut.

Imam An-Nawawi menjelaskan maksud sabda Rasulullah “Janganlah engkau marah”; maksudnya adalah janganlah engkau lampiaskan amarahmu. Larangan dalam hadits tersebut bukan ditujukan terhadap sifat marah akan tetapi larangan untuk melampiaskan amarah. Hal itu dikarenakan sifat marah merupakan tabiat atau watak manusia yang tidak mungkin bisa terelakkan lagi.

Dalam riwayat lain disebutkan:

وجاء رجل إلى النبي r فقال: يا رسول الله علمني علما يقربني من الجنة وبيعدني من النار, قال: "لا تغضب ولك الجنة". رواه الطبراني  

Artinya: “Dan ada seorang laki-laki yang datang menemui Nabi lalu berkata: “Wahai Rasulullah ajarkanlah aku sebuah ilmu yang dapat mendekatkanku kepada surga dan menjauh diriku dari api neraka”. Lantas Rasulullah bersabda: “Janganlah marah maka bagimu surga.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath 3/25, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihil Jami’: 7374)

Sahabat fillah..

Rasulullah melarang kita untuk melampiaskan amarah karena hal tersebut dapat menimbulkan kerusakan, kebencian, dendam, dosa dan seabreg dampak negatif lainnya. Bisa kita lihat jika seseorang sedang marah, maka matanya memerah api, urat lehernya mengencang, dan tidak jarang perbuatan dan perkataan tak terpuji pun keluar dari lisan dan tangannya.

Amarah berasal dari syaitan dan merupakan bara api yang dilemparkan syaitan ke dalam hati anak manusia. Sedangkan kita tahu bahwa syaitan tidaklah memerintahkan kecuali keburukan dan perbuatan keji semata. Allah berfirman:

إنما يأمركم بالسوء والفحشاء وأن تقولوا على الله ما لا تعلمون (البقرة: 169)

Artinya: “Sesungguhnya (syaitan) itu hanya akan menyuruh kalian agar berbuat buruk dan keji serta agar kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian ketahui tentang Allah. (QS. Al-Baqarah: 169)

Rasulullah bersabda:

إن الغضب من الشيطان

Artinya: “Sesungguhnya amarah itu berasal dari syaitan.” (HR. Abu Dawud: 4784, didha’ifkan oleh Al-Albani dalam Dha’ifil Jami’: 1510)

Sahabat fillah yang dirahmati Allah..

Syariat islam adalah syariat yang mulia, tidaklah ia melarang sesuatu melainkan juga menerangkan solusinya. Saat Rasulullah melarang kita melampiaskan amarah, beliau pun menjelaskan solusi agar kita tidak terjerumus ke dalam hal-hal tercela saat marah menghinggapi kita. Diantaranya adalah:

1.      Berwudhu. Nabi bersabda:

إن الغضب من الشيطان وإن الشيطان خلق من النار وإنما يطفئ النار الماء فإذا غضب أحدكم فليتوضأ

Artinya: “Sesungguhnya amarah itu berasal dari syaitan, dan syaitan tercipta dari api, serta tidak ada yang bisa memadamkan api kecuali air. Oleh karena itu apabila salah seorang di antara kalian marah maka hendaknya ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud: 4784, didha’ifkan oleh Al-Albani dalam Dha’ifil Jami’: 1510)

2.      Duduk atau berbaring. Nabi bersabda:

إياكم والغضب فإنه جمرة في فؤاد ابن آدم ألم تر إلى أحدكم إذا غضب كيف تحمر عيناه وتنتفخ أوداجه, فإذا أحس أحدكم بشيء من ذلك فليضطجع أو ليلصق بالأرض

Artinya: “Jauhilah sifat marah, karena sesungguhnya ia adalah bara api di dalam hati  anak manusia. Tidakkah kamu lihat apabila seorang di antara kalian sedang marah bagaimana matanya memerah, urat lehernya mengencang. Oleh karena itu apabila salah seorang di antara kalian merasakan sesuatu dari hal tersebut maka hendaknya ia berbaring atau melekatkan (tubuhnya) di tanah.” (HR. At-Tirmidzi: 2191, didha’ifkan oleh Al-Albani dalam Dha’ifil Jami’: 1240)

Rasulullah juga bersabda:

إذا غضب أحدكم وهو قائم فليجلس, فإن ذهب عنه الغضب وإلا فليضطجع

      Artinya: “Apabila salah seorang dari kalian marah dan ia dalam keadaan berdiri maka hendaknya ia duduk, jika marahnya telah hilang (maka Alhamdulillah) namun jika tidak maka hendaknya ia berbaring.” (HR. Abu Dawud: 4782, Ahmad 5/152, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihil Jami’: 694)

Sahabat fillah sekalian..

Orang yang mampu menahan amarahnya dan tidak melampiaskannya adalah orang kuat, kuat karena ia mampu untuk menguasai hawa nafsunya sehingga tidak terkendalikan olehnya. Sebaliknya orang yang marah kemudian ia melampiaskannya maka ia adalah orang yang lemah, lemah karena ia tidak mampu melawan hawa nafsu dan bisikan syaitan sehingga ia dengan mudah terkuasai olehnya.

Allah telah memuji orang-orang yang mampu menahan amarahnya dalam firman-Nya:

والكاظمين الغيظ والعافين عن الناس

Artinya: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali-Imran: 134)

Rasululla juga bersabda:

من كظم غيظه وهو يستطيع أن ينفذه دعاه الله عز وجلا على رءوس الخلائق يوم القيامة حتى يخيره من الحور ما شاء

Artinya: “Barang siapa mampu menahan amarahnya sedangkan ia mampu melampiaskannya, niscaya Allah akan mendoakannya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat hingga Allah mempersilahkan kepadanya untuk memilih bidadari mana yang ia suka.” (HR. At-Tirmidzi: 2021, Ibnu Majah: 4186, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihil Jami’: 6522)

Dalam hadits lain Nabi bersabda:

ليس الشديد بالصرعة إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب

Artinya: “Orang yang kuat tidak diidentikkan dengan perkelahian, namun orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhari: 6114, Muslim: 2609)

Subhanallah alangkah beruntungnya orang yang mampu menahan amarah dan mengendalikan dirinya di saat marah.

So., sahabat fillah sekalian..

Kalau kita sedang marah yang wajar-wajar aja ya, tahan diri dan jangan dilampiaskan dengan perbuatan ataupun kata-kata yang tidak baik. Sampai di sini semoga bermanfaat. ^_^  


(Disarikan dari kitab Ar-Raudatun Nadiyyah Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah hadits ke 16)   





  



Minggu, 11 Maret 2012

Jabat Tangan Dengan Wanita Bukan Mahram


(Oleh: Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid)

Pada zaman sekarang jabat tangan antara laki-laki dengan perempuan hampir sudah menjadi tradisi. Tradisi bejat itu mengalahkan akhlak islami yang mestinya ditegakkan. Bahkan mereka menganggap kebiasaan itu jauh lebih baik dan lebih tinggi nilainya dari pada syariat Allah yang mengharamkannya. Sehingga jika salah seorang dari mereka anda ajak dialog tentang hukum syariat, dengan dalil-dalil yang kuat dan jelas, tentu serta merta ia akan menuduh anda sebagai orang kolot, ketinggalan zaman, kaku, sulit beradaptasi, ekstrim, hendak memutuskan tali silaturrahmi, menggoyahkaan niat baik dan sebagainya.

Sehingga dalam masyarakat kita, berjabat tangan dengan anak perempuan paman atau bibi, dengan istri saudara atau istri paman, baik dari pihak ayah maupun ibu lebih mudah dari pada minum air.

Seandainya mereka melihat secara jernih dan penuh pengetahuan tentang bahaya persoalan tersebut menurut syara' tentu mereka tidak akan melakukannya. Rasulullah bersabda:

لأن يطعن في رأس أحدكم بمخية من حديد خير له من أن يمس امرأة لا تحل له

Artinya: "Sungguh ditusuknya kepala salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (HR. Ath-Thabrani dalam Shahihul Jami' no: 4921)

Kemudian tidak diragukan lagi hal ini termasuk zina tangan, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah:

العينان تزنيان واليدان تزنيان والرجلان تزنيان والفرج يزني

Artinya: "Kedua mata berzina, kedua tangan berzina, kedua kaki berzina dan kemaluanpun berzina." (HR. Ahmad 1/412; Shahihul Jami' no: 4126)

Dan adakah orang yang hatinya lebih bersih dari Nabi Muhammad? Namun begitu, beliau mengatakan:

إني لا أمس أيدي النساء

Artinya: "Sesungguhnya aku tidak menyentuh tangan wanita." (HR. Ahmad 6/357, dalam Shahihul Jami' no: 2509)

Beliau juga bersabda:

إني لا أصافح النساء

Artinya: "Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir 24/342; Shahihul Jami': 70554)

Dan dari Aisyah beliau berkata:

ولا والله ما مست يد رسول الله صلى الله عليه وسلم يد امرأة قط غير أنه يبايعهن بالكلام

Artinya: "Dan demi Allah sungguh tangan Rasulullah shallallahu 'laihi wa sallam sama sekali tidak pernah menyentuh tangan perempuan, tetapi beliau membaiat mereka dengan perkataan." (HR. Muslim 3/1489)

Hendaknya takut kepada Allah orang-orang yang mengancam istrinya yang shalihah karena tidak mau berjabat tangan dengan kolega-koleganya. Perlu juga diketahui, berjabat tangan dengan lawan jenis meski memakai alas (kaos tangan) hukumnya tetap haram.  

Selasa, 06 Maret 2012

Kunci Sukses "DUIT"


Kunci Sukses “DUIT”
(Pesan Pak Paham)



Seperti biasa Pak Paham selalu datang tepat waktu dalam mengajar, beliau merupakan pensiunan guru MAN 2 Madiun sekaligus dosen kehidupan saya di sini karena terus terang saya banyak mengambil banyak pelajaran dari asam garam beliau selama  menjadi pendidik. Di masa pensiunnya beliau gunakan untuk mengabdikan diri di sebuah Pondok kecil di ujung timur kabupaten Magetan tempat kami tinggal dan berjuang bersama guna menyiapkan kader-kader Islam yang handal.

Pagi itu sesaat sebelum beliau masuk kelas untuk mulai mengajar, beliau sempatkan mampir ke ruangan kami. Sambil menunggu bel tanda masuk berbunyi kami terlibat obrolan ringan, dalam obrolan tersebut beliau pun dengan semangat menceritakan pengalamannya semenjak aktif di PGA hingga menjadi tenaga pendidik di salah satu sekolah negeri Kota Pecel itu. Seperti biasa kami pun hanya bisa menyimak baik-baik apa yang disampaikan oleh Pak Paham, maklum lah kalau beliau sudah bicara pasti akan panjang dan melebar kemana-mana ^_^. Salah satu hal yang beliau sampaikan pada obrolan tersebut adalah tentang kunci sukses dalam hidup yaitu “DUIT”. “Itu memang metode saya dalam berdakwah, dan semuanya itu saya ambilkan dari Al-Qur’an” kata beliau dengan ramah.

Beliau memang gemar membuat kesimpulan-kesimpulan dari Al-Qur’an dengan tujuan supaya memudahkan dalam berdakwah. Salah satu yang akan kita kaji kali ini adalah kunci sukses “DUIT”. Eits., jangan salah, DUIT kali ini bukanlah merupakan alat barter yang kita gunakan pada masa sekarang, tapi DUIT merupakan singkatan dari “Doa, Usaha, Ilmu, Tekun, Tabah dan Tawakal. Sekarang monggo kita kaji bareng-bareng yuk..

Doa

Kunci sukses pertama adalah doa. Doa memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan seorang muslim, dan ia tidak mungkin melepaskan diri darinya. Doa merupakan bagian paling subtansial dalam ibadah, bahkan bisa dikatakan sebagai ruh ibadah. Jika demikian bagaimana mungkin seseorang dapat hidup tanpa keberadaan ruh di dalam tubuhnya?!. Dalam riwayat dari An-Nu’man bin Basyir, Rasulullah bersabda:

إن الدعاء هو العبادة

Artinya: “Sesungguhnya doa adalah (termasuk) ibadah.” (HR. Al-Bukhari)

Doa merupakan ibadah yang Allah perintahkan kepada umat manusia. Allah berfirman:

وقال ربكم ادعوني أستجب لكم

Artinya: “Dan Rabb kalian telah berfirman: “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan untuk kalian”.” (QS. Ghafir: 60)
Manusia merupakan makhluk yang sangat lemah , ia selalu membutuhkan Sang Pencipta untuk bisa memenuhi hajatnya serta menutupi segala kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu Allah mensyariatkan doa sebagai salah satu sarana komunikasi antara manusia dengan Rabbnya.

Doa merupakan sebab untuk menggapai ridha Ilahi dan sebaliknya meninggalkan/tidak mengamalkan doa adalah sebab datangnya murka Allah. Rasulullah bersabda:

من لم يدع الله سبحانه غضب عليه

Artinya: “Barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah niscaya Allau pun murka kepadanya.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani; Shahih Ibnu Majah: 3085)

Hal itu dikarenakan orang yang memang sengaja menolak berdoa kepada Allah termasuk orang-orang yang sombong dan tidak tahu diri, padahal manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan serba kekurangan. Allah berfirman:

إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60)

Allah juga menerangkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah, Allah berfirman:

وخلق الإنسان ضعيفا

Artinya: “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa: 28)

Doa adalah langkah awal sesorang untuk menggapai kesuksesan hidup di dunia maupun di akhirat. Seseorang yang berdoa kepada Allah, maka Allah bisa saja langsung mengabulkan doanya atau menangguhkannya sebagai tabungan baginya di akhirat kelak, atau bisa juga Allah menghindarkan pelakunya dari suatu keburukan/musibah sesuai dengan doanya.

Pembaca sekalian yang dirahmati Allah, doa sebagai salah satu bentuk ibadah memiliki 4 syarat (sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitabnya Syarh Riyadhusshalihin: 4/3-4) yaitu:
1.      Ikhlas hanya mengharap wajah Allah.
2.      Doa tersebut tidak mengandung kezhaliman.
3.      Yakin dan optimis bahwa doanya akan terkabul.
4.      Menjauhkan diri dari hal-hal yang haram baik dari sisi makanan, minuman, pakaian ataupun mata pencaharian.

Selain 4 syarat di atas dalam berdoa kita juga harus memperhatikan adab-adabnya, di antaranya adalah:
1.      Berwasilah dengan amal shalih dalam berdoa.
2.      Menghadap kiblat.
3.      Mengangkat kedua tangan.
4.      Berdoa dengan suara pelan.
5.      Menghadirkan hati.
6.      Mengulang-ulang doa.
7.      Bertekad kuat dan sungguh-sungguh
8.      Memulai doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat Nabi.
9.      Berdoa dengan doa-doa yang ringkas namun bermakna luas.

Usaha

Setelah kita mengawali langkah menuju sukses dengan berdoa, sekarang kita menapak langkah yang kedua yaitu usaha. Usaha merupakan proses yang wajib dijalani seseorang jika ia ingin meraih kesuksesan hidup. Karena Allah sendiri juga tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai mereka merubah keadaan yang ada pada mereka. Allah berfirman:

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai mereka merubah keadaan yang ada pada mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan firman Allah di atas dalam tafsirnya: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kenikmatan, kebaikan dan kelapangan hidup yang ada pada suatu kaum kecuali apabila mereka mencabut keimanan yang ada pada diri mereka dan beralih kepada kekufuran, atau dari ketaatan beralih kepada kemaksiatan, atau mensyukuri nikmat Allah namun kemudian mengingkarinya. Maka ketika itu Allah pun mengembalikan mereka kepada keadaan yang buruk. Begitu juga apabila seorang hamba merubah keadaan dirinya dari kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah, maka Allah pun akan menghapus siksa sebagai akibat atas perbuatannya dan menggantinya dengan pahala, kebaikan, kebahagiaan dan kasih sayang-Nya.” (Taisir Karimirrahman: 414)

So., sahabat fillah usaha itu penting dan perlu, toh tidak mungkin kan dengan hanya berpangku tangan dan berpanjang angan lalu langit akan menurunkan hujan emas dengan sendirinya?

Ilmu

Dalam berdoa dan berusaha jangan lupa harus berilmu dulu, karena ilmu merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dimiliki seseorang sebalum ia melakukan sesuatu. Kalau mau berjualan bakso, harus tahu dulu seluk-beluk tentang bola daging itu, mulai dari bahan-bahan yang diperlukan untuk membuatnya, tata-cara/proses pembuatannya, memilih lokasi berjualan yang strategis hingga ilmu perdagangnya harus dikuasai semua.

Demikian juga sahabat fillah seseorang yang menghendaki kesuksesan hidup di dunia maupun akhirat maka ia pun harus berilmu. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i yang dengannya Allah mengangkat derajat kedudukan para pemiliknya di sisi-Nya. Allah berfirman:

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات

Artinya: “Allah meninggikan kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Imam Al-Bukhari juga membuat salah satu bab dalam kitab shahihnya dengan judul:

باب العلم قبل القول والعمل

Artinya: “Bab berilmu sebelum berkata dan beramal.”

Allah menjanjikan akan memudahkan jalan menuju surga bagi hamba-Nya yang mau menuntut ilmu. Nabi Muhammad bersabda:

ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

Artinya: “Dan barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu niscaya Allah mudahkan dengannya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Maka wajib bagi orang yang belum berilmu (seperti saya) untuk belajar, belajar dan belajar.

Tekun, tabah dan tawakal

Sahabat fillah., apabila kita sudah mengawali langkah dengan doa dan usaha yang dilandasi dengan ilmu maka kita lengkapi hal-hal tadi dengan kiat selanjutnya yaitu tekun, tabah dan tawakal. Tekun dalam berusaha, tabah menghadapi tantangan dan tawakal kepada Allah. Allah berfirman:

إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang tatkala disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka mereka pun semakin bertambah imannya serta mereka bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)

Seseorang dikatakan bertawakal apabila ia menyerahkan suatu perkara sepenuhnya kepada Allah setelah ia berusaha semaksimal mungkin sesuai kadar kemampuannya. Tawakal merupakan sifat orang-orang yang beriman, dan ia termasuk salah satu bentuk ibadah yang mulia.
Orang-orang yang beriman bertawakal hanya kepada Allah saja, tidak pada yang lain. Mereka menyandarkan sepenuhnya urusan mereka kepada Allah, mereka meyakini apapun yang Allah putuskan bagi mereka maka itulah yang terbaik,

Bertawakal kepada Allah bukan berarti menyandarkan urusan sepenuhnya kepada Allah tanpa ada usaha yang menyertainya. Karena Allah mentakdirkan segala sesuatu tidak terlepas dari sebab-sebabnya (usaha). Allah telah memerintahkan kita untuk giat dalam berusaha dan melengkapinya dengan tawakal. Jadi giat dalam berusaha merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, karena Allah memerintahkan hal tersebut, dan itu merupakan amalan anggota badan. Sedangkan tawakal merupakan amalan hati dan bentuk keimanan seorang hamba pada Rabbnya.

Itulah sahabat fillah sedikit penjabaran dari kunci sukses hidup di dunia maupun  di akhirat “ala” Pak Paham (DUIT). Semoga kita dapat mengamalkannya dan mengambil manfaat darinya. ^_^
Wallahua’lam..

Daftar maraji’:
1.      Taisir Karimirrahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Muassasah Ar-Risalah.
2.      Syarh Riyadhisshalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Atsar.
3.      Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad War Rad ‘Ala Ahlisy Syirki Wal Ilhad, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, Darush Shahabah.
4.      Al-Mukhtar Min Du’ail ‘Azizil Ghaffar, Muhammad bin Abdil Aziz bin Sa’id.

     
 

        






Kiamat Sudah Dekat (2)




Tanda-tanda yang telah terjadi dan telah berkhir




Bagian pertama sebagaimana dijelaskan oleh As-Safarini yaitu tanda-tanda jauh; yang telah terjadi dan sudah berlalu, diantaranya:
1.      Diutusnya Nabi Muhammad  sebagai rasul.
2.      Wafatnya beliau.
3.      Penaklukkan Baitul Maqdis.
4.      Terbununya amirul mukminin Utsman bin Affan , Hudzaifah  menuturkan: “fitnah yang pertama kali terjadi adalah terbunuhnya Utsman...”
5.      Banyaknya peperangan yang dialami oleh kaum muslimin setelah peristiwa tersebut.
6.      Munculnya kelompok-kelompok sesat seperti Khawarij dan Rafidhah.
7.      Munculnya para dajjal dan pendusta yang mengklaim sebagai nabi.
8.      Lengsernya kerajaan Arab (diriwayatkan oleh Tirmidzi).
9.      Berlimpahnya harta (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta yang lainnya).
Banyaknya bencana berupa gempa bumi, pembenaman kedalam tanah, perubahan rupa, al-qadzaf (tuduhan zina terhadap wanita tanpa disertai bukti yang otentik) dan hal-hal lain yang dikhabarkan nabi sebagai tanda-tanda jauh hari kiamat yang telah terjadi dan telah berlalu.



Tanda-tanda yang telah dan masih terjadi sampai sekarang




Sedangkan bagian kedua adalah tanda-tanda yang telah dan masih terjadi sampai sekarang. Tanda-tanda ini banyak sekali dan kita saksikan disekitar kita, diantaranya adalah:
1.      Sabda Rasulullah :
"لا تقوم الساعة حتى يكون أسعد الناس بالدنيا لكع بن لكع."

Artinya: “kiamat tidak akan terjadi hingga orang yang paling bahagia dengan kehidupan dunia adalah Luka’ bin Luka’.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dari hadits Hudzaifah)
Luka’ adalah seorang budak yang dungu lagi hina. Makna hadits tersebut adalah kiamat tidak akan terjadi hingga seorang yang dungu, hina atau yang semisalnya menjadi pemimpin bagi manusia.
2.      Sabda Rasulullah :
"يأتي على الناس زمان الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر."

Artinya: “akan datang kepada manusia suatu masa, yang mana pada masa itu seorang yang bersabar diantara mereka demi agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi dari hadits Anas)
3.      Sabda Rasulullah :
"لا تقوم الساعة حتى يتباهى الناس في المساجد."

Artinya: “kiamat tidak akan terjadi hingga manusia bangga dalam (kemegahan) masjid.” (HR. ahmad, abu dawud, ibnu hibban, ibnu majah dari hadits anas)
4.      Sabda Rasulullah :
"يكون في آخر الزمان عباد جهال وقراء فسقة." وفي لفظ: "فساق."

Artinya: “akan ada pada akhir zaman nanti para budak yang dungu dan para pembaca Al-Qur’an yang fasiq.” (HR. abu nu’aim dan hakim dari hadits Anas)
5.      Ditampakkannya bulan sabit (hilal), dikatakan: yaitu dalam jangka waktu dua malam; karena menggelembung dan besarnya bulan tersebut. (At-Thabrani meriwayatkan maknanya dari ibnu mas’ud).
6.      Dijadikannya masjid-masjid sebagai jalan.
7.      Di dalam Shahih Bukhari dan lainnya dari hadits Anas  bahwasanya beliau berkata: maukah kalian aku ceritakan dengan sebuah hadits yang telah aku dengar dari Rasulullah , yang tidak akan ada seorangpun yang menceritakannya selainku? Aku mendengar rasulullah  bersabda (artinya): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda terjadinya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, banyaknya kebodohan, tesebarnya zina, banyaknya peminum khamr, sedikitnya laki-laki, banyaknya perempuan hingga perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 50:1.”

Tanda-tanda dekat dan besar yang diikuti dengan terjadinya hari kiamat

            Bagian yang terakhir adalah tanda-tanda yang persis terjadi sebelum kiamat yang sesungguhnya, dintaranya adalah munculnya Imam Mahdi, Dajjal, turunya Isa bin Maryam, keluarnya Ya’juj dam Ma’juj, hancurnya Ka’bah, munculnya asap, diangkatnya Al-Qur’an, terbitnya matahari dari arah barat, keluarnya binatang melata, munculnya api dari Qa’r ‘Adan, ditiupnya sangkakala dengan tiupan yang mengejutkan, tiupan yang membuat manusia pingsan, matinya makhluk dan tiupan hari berbangkitan dan berkumpul.
            Intinya peristiwa kiamat sangatlah dahsyat, sedangkan kita dalam keadaan lalai. Sungguh sebagian tanda-tanda kiamat telah banyak muncul dan terjadi di zaman kita, dan tentu hal ini menunjukkan semakin dekatnya kiamat. Maka kita memohon perlindungan kepada Allah U dari segala fitnah yang nampak maupun yang batin, dan semoga Allah U mematikn kita dalam keadaan islam.
            Semua hal yang diberitakan Rasulullah  didalam haditsnya mengenai tanda-tanda hari kiamat merupakan keistimewaan dan mukjizat tersendiri bagi beliau. Dan seiring berjalannya waktu berita itupun terbukti dan menjadi realita yang nyata di tengah-tengah kita.

(Diringkas dan diterjemahkan dari kitab Al-Irsyad Ila Shohihil I’tiqod hal: 255-259 karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, cetakan Darus Shohabah)

Catatan:           Bagi pembaca yang menemukan adanya kekeliruan dalam terjemahan mohon segera dilaporkan. Syukron