Tampilkan postingan dengan label Muhasabah Dan Ibroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah Dan Ibroh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juni 2012

Hadiah Untuk Al-Ustadz Fata Mukmin, Lc (rahimahullah)


Hadiah Untuk Al-Ustadz Fata Mukmin, Lc (rahimahullah)

Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah yang telah menjadikan kematian dan kehidupan sebagai ujian bagi kita; siapa di antara kita yang lebih baik amalannya. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah curahkan untuk kekasih-Nya Muhammad beserta keluarga, sahabat serta seluruh orang-orang yang setia mengikuti ajarannya hingga hari kiamat tiba.

“Assalamu’alaikum Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun.. telah meninggal dunia ustadz qt tercinta, ustadz Fata, LC. Di RS BETESDA YOGYAKARTA, sktr pukul 08.30 td pagi. Sem0ga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah. Aamiin”

Begitulah bunyi pesan singkat yang masuk ke handphone saya, berita duka itu datang tak terduga tepat pukul 09.41 WIB pada hari ahad 17 juni 2012 yang dikirim oleh Mba Itsni Khairunnisa. Kaget bukan kepalang, rasa kantuk yang sangat sontak menjadi hilang,  trenyuh di hati mengharu biru, hanya kalimat Istirja’ yang mampu saya ucapkan pada saat itu “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, Qaddarallahu Wa Ma Syaa`a Fa’ala. Allah telah memanggilnya, Allah telah menepati takdir-Nya dan ini semua pasti adalah yang terbaik untuk kita semua.

“Al-Ustadz Fata Mukmin, Lc” nama yang tak akan pernah lekang dari hati; pribadinya, perjuangan dakwahnya, kharismanya dan semua hal tentang beliau. Walau saya pribadi tak begitu akrab dengan beliau, namun tak tahu mengapa terasa begitu kuat ikatan batin antara beliau dengan santri-santrinya. Hingga saat berita wafat itu tersiar, bumi seakan berhenti berputar, siang yang begitu cerah dan terang serasa berubah menjadi malam yang gelap gulita tanpa penerangan, rasa kehilangan yang mendalam itulah yang saya rasakan, dan saya yakin dirasakan pula oleh keluarga, rekan, sahabat serta ribuan santri beliau di sana.

Dalam hadits riwayat Al-Bukhari: 1284 dan Muslim: 923 disebutkan bahwa tatkala cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, beliaupun datang kemudian mengangkat jenazahnya di atas pangkuannya yang mulia. Hati beliau sangat sedih hingga beliau tak kuasa menahan air mata, lantas Sa’ad bin Ubadah bertanya: Wahai Rasulullah air mata apa ini? Nabi bersabda:

"هذه رحمة جعلها الله تعالى في قلوب عباده." وفي رواية: "في قلوب من شاء من عباده, وإنما يرحم الله من عباده الرحماء." متفق عليه

Artinya: “Ini adalah linangan air mata kasih sayang yang Allah jadikan dalam hati para hamba-Nya.” Dalam riwayat lain: “Dalam hati hamba-Nya yang Ia kehendaki, dan sesungguhnya Allah hanya menyayangi para hamba-Nya yang penyayang.” Muttafaq ‘alaih

Meski saya tak bisa hadir untuk berta’ziyah karena jarak yang terlampau jauh, namun dapat saya rasakan tetesan air mata kasih sayang keluarga, sahabat, rekan dan ribuan santri beliau di sana. Alhamdulillah itu semua menjadi bukti betapa banyak insan yang sangat sayang kepada antum Ustadz.
 Benarlah apa yang dituliskan oleh Mba Resta Tri Widyadhara dalam FBnya (maaf ya Mba saya belum izin copas): Beliau (ibunda Ustadz Fata) Mengatakan Kepada Kami :“Jangan Menangis, Kalo Ingin Melihat Ustadz Kalian Untuk Yang Terakhir Kali, Jangan Menagis” Kamipun Berusaha Untuk Tidak Menangis, Sang Ibupun Berbisik Kepada Putranya “(ustd.) Fata, kamu lihat kan banyak murid-muridmu yang menjenguk kamu, banyak yang sayang kepadamu, jadi kamu harus bahagia disana, semoga jalanmu di mudahkan oleh Allah,, sabar ya sayang sebentar lagi kita pulang ke Kebarongan…”

Subhanallah bukan maksud saya mendramatisir suatu peristiwa, namun hendaknya kita bisa menngambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa yang Allah takdirkan untuk kita semua.

Kini, esok dan seterusnya tiada lagi yang bisa kami hadiahkan untuk antum di sana kecuali untaian doa yang diajarkan oleh Nabi kita tercinta Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada Allah jua kami dikembalikan. Ya Allah, berilah kami pahala dalam musibah yang menimpa kami ini, dan berilah kepada kami ganti yang lebih baik.” (Muslim: II/632, lihat kitab Hishnul Muslim)

“Ya Allah, ampunilah Ustadz kami Fata Mukmin, angkatlah derajatnya bersama mereka yang mendapat petunjuk. Dan ciptakanlah pengganti dirinya bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Ampunilah dosa kami dan dosa-dosanya, wahai Rabb sekalian makhluk. Luaskanlah kuburnya dan berilah cahaya kepadanya dalam kuburnya.” (Muslim: II/634, lihat kitab Hishnul Muslim)

“Ya Allah, ampunilah dirinya, berikan rahmat-Mu kepadanya, selamatkan dirinya dan ampuni dosa-dosanya, muliakan dirinya dan luaskanlah kuburnya. Cucilah dirinya dengan air, es dan embun, lalu bersihkanlah dirinya dari segala kesalahan sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari noda. Berikanlah kepadanya tempat tinggal (pengganti) yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, istri yang lebih baik dari istrinya. Masukkan dirinya ke dalam surga, dan peliharalah dirinya dari siksa kubur dan siksa neraka.” (Muslim: II/ 663, lihat kitab Hishnul Muslim)

“Sesungguhnya Allah berhak mengambil apapun yang Dia kehendaki, sebagaimana Allah berhak memberikan apa saja yang Dia kehendaki. Segala sesuatu di sisi Allah itu memiliki batas dan ketentuan. Hendaknya kita bersabar dan mengharap pahala kepada-Nya.” (Al-Bukhari: II/ 80 dan Muslim: II/636, lihat kitab Hishnul Muslim)

Aamiiin, aamiiin yaa Rabb..


  
         

Rabu, 21 Maret 2012

Kisah Dua Cinta Yang Tak Semestinya




Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam abadi semoga tetap terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabatnya dan seluruh orang-orang yang mengikuti ajarannya dengan setia sampai hari kiamat tiba. Amma ba’du

Sahabat fillah yang dirahmati Allah..

Semua perjalanan hidup seorang manusia, kisahnya, musibah, nikmat, senang, sedih, peristiwa yang ia alami, semuanya telah tercatat dengan rapi di dalam lembaran yang mulia lagi terjaga jauh lima puluh ribu tahun lamanya sebelum alam ini tercipta.

Dari sejuta kisah hidup anak manusia, di sana ada sebuah cerita; cerita dua sejoli yang tengah dilanda asmara (baca: fitnah). Sebut saja namanya Radit dan satunya Gadis, dua insan satu agama, satu suku, satu daerah dan satu sekolah. Mereka berdua sama-sama sekolah di salah satu Madrasah Aliyah swasta yang ada di Kabupaten Satria yang terkenal dengan getuk goreng dan mendoannya itu. Radit yang kala itu duduk di bangku kelas dua belas semester terakhir usianya baru sekitar 18 tahun, sedangkan Gadis baru duduk di kelas sepuluh semester dua dan usianya pun masih muda belia kurang lebih sekitar 15 tahun.

Lemahnya iman, hati yang berpenyakit, kurangnya ilmu dan kesadaran muraqabah (pengawasan Allah) yang tipis di tambah lagi lingkungan sekolah yang masih ikhtilath (campur-baur antara laki-laki dan perempuan) menjadikan faktor terbesar yang menjadikan keduanya terjerumus ke dalam lembah “indahnya” fitnah. Bermula dari pandangan, panah syaitan pun terlepas dari busurnya dan tepat mengenai hati keduanya. Dilanjutkan dengan saling mengirim dan berbalas surat yang isinya hanya rayuan gombal murahan. Kemudian berlanjut dengan pertemuan-pertemuan haram, semuanya persis seperti apa yang dituliskan oleh Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah ketika beliau memperingatkan kita dari perbuatan zina dalam salah satu tulisannya. Meski demikian alhamdulillah keduanya tak sampai terjerumus ke dalam perbuatan keji tersebut meski mata, tangan, kaki telah berzina karena memang hal itu hampir tak bisa terelakkan lagi.

Satu semester telah berlalu, Radit pun telah berhasil menyelesaikan studi tingkat menengah atasnya dan ia ingin segera melanjutkan ke jenjang berikutnya. Berbeda dengan Gadis, ia masih butuh waktu dua tahun lagi untuk menyelesaikan studinya, dan itu bukanlah waktu yang sebentar untuk seorang perempuan. Resah, gelisah, cemas dan bayangan kelam lainnya terus menghantui hidupnya. Rasa takut akan kehilangan “kekasih hati” yang selama ini ia cintai. Radit tentu paham benar dengan apa yang sedang dirasakan “pujaan hatinya” itu. Dengan segala kekurangannya ia pun segera mencoba berusaha menenangkan dan meyakinkan Gadis bahwa Allah tahu mana yang terbaik untuk para hamba-Nya. “De’ kalau kita memang jodoh Allah pasti mempertemukan kita lagi dan menyatukan kita dalam ikatan pernikahan yang suci” katanya kepada Gadis. Saat itu Gadis tak sanggup berkata apa-apa dan ia hanya menjawab lewat tetesan air mata yang terus berderai dari kedua matanya.

Sejak perpisahan itu hubungan keduanya pun mulai merenggang, jarang terjadi komunikasi kecuali hanya sesekali bertanya kabar melalui telepon atau sms. Radit memilih untuk meneruskan studinya di salah satu lembaga tinggi swasta yang ada kabupaten tetangga, sedangkan Gadis masih berkutat dengan studi menengah atasnya dengan perasaan galau yang terus menhantuinya. Ya mungkin karena ia seorang perempuan, jadi tak seperti seorang laki-laki yang memang tak merasakan beban seberat yang di rasakan perempuan ketika mengalami masalah seperti itu.

Di tengah studinya Radit pun mengintrospeksi diri atas kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi sepanjang hidupnya. Alhamdulillah ia sadar betul bahwa apa yang ia lakukan bersama Gadis selama satu semester dulu di sekolah adalah kesalahan yang sangat fatal yang semestinya tak perlu terjadi. Radit mulai menata diri, memperbaiki hidupnya terutama dari sisi rohani dan ia juga berharap Gadis melakukan hal yang sama di sana. Ada rasa sesal dan bersalah yang mendalam dalam hati Radit, rasa sesal karena melakukan banyak pelanggaran terhadap syariat dan rasa bersalah kepada Gadis. “Namun toh semuanya sudah terjadi, yang ada tinggal sikap memperbaiki diri dan mengambil ibroh dari berbagai peristiwa yang pernah dialami” gumamnya dalam hati.

Kini lima tahun telah berlalu dari kisah mereka berdua. Radit yang sekarang alhamdulillah sudah jauh berbeda dengan Radit yang dulu (ya meski masih banyak kekurangan, namanya juga manusia) dan ia masih berharap kuat Gadis juga demikian.

Demikian gambaran kisah nyata ringkas yang bisa saya torehkan pada kesempatan ini, dan insya Allah ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil darinya.

Sahabat fillah sekalian..

Masa pubertas adalah masa yang sangat rentan bagi kaum remaja. Bagi mereka yang sedang mengalami masa-masa tersebut harus pintar-pintar memanage diri agar tidak sampai terjerumus ke dalam perbuatan maksiat dan dosa. Jiwa yang labil, keinginan yang menggebu-gebu, syahwat yang membuncah apalagi jika tidak dibarengi dengan benteng agama yang kuat maka hal itu akan sangat mudah menjerumuskannya ke dalam lembah nista bernama “asmara”.

Rasa cinta atau suka terhadap lawan jenis adalah wajar dan manusiawi yang memang tak bisa dielakkan lagi. Allah berfirman:

زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقناطير المقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعام والحرث ذلك متاع الحياة الدنيا والله عنده حسن المآب

Artinya: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14)
Namun yang perlu diingat adalah bagaimana kita memanage hati dan rasa cinta tersebut agar membuahkan rasa tenang, tentram dan kasih sayang serta tidak membawa pelakunya ke dalam perbuatan dosa. Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia Menciptakan pasangan-pa-sangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia Menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum: 21)

Ya solusi terbaik dari permasalahan ini adalah dengan menikah bagi yang sudah mampu karena hal itu lebih bisa menumbuhkan ketenangan hati dan menjaga kehormatan diri. Sedangkan bagi mereka yang belum mampu maka hendaknya memperbanyak puasa sebagai perisai dari jilatan api syahwat yang tengah membara. Rasulullah bersabda:

يا معشر الشباب, من استطاع منكم الباءة فليتزوج, فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج, ومن لم يستطع فعليه بالصوم, فإنه له وجاء

Artinya: “Wahai sekalian pemuda, barang siapa memiliki kemampuan untuk menikah maka menikahlah; karena sesungguhnya nikah itu lebih bisa untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Namun barang siapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa karena sesungguhnya ia adalah penawar/penekan nafsu syahwat.” (HR. Al-Bukhari: 5065 dan Muslim: 1400).

Selain itu menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat seperti menuntut ilmu syar’i, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis taklim, menambah pergaulan dengan orang-orang shalih, itu semua juga bisa menjadi benteng yang kuat bagi mereka yang sedang masalah “cinta”.

Wallahu’alam bisshawab sekian dulu sahabat fillah yang bisa saya bagikan di sini semoga bermanfaat. Dan tidak lupa pesan Radit untuk Gadis yang jauh di sana “Tetaplah semangat, sabar dan istiqomah menjalani hidupmu sebagai salah seorang thalibah di sebuah ma’had, yakinlah bahwa Allah maha tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya dan tulang rusuk seseorang tidaklah mungkin tertukar.”


    
                    



Selasa, 20 Maret 2012

Kholis Dan Kholas; Dua Pelita Kecil Penyejuk Hati




Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabatnya serta seluruh manusia yang setia mengikuti ajarannya hingga hari kiamat tiba.

Sahabat fillah yang berbahagia..

Kali ini saya akan sedikit berbagi kisah tentang dua bocah kecil bernama Kholis dan Kholas. Ya begitulah nama keduanya, keduanya adalah putra kembar pasangan Pak Irfan (sama kayak nama saya cuma bedane beliau sudah pakai embel-embel “Pak”, kalau saya masih “Mas” ^_^) dan Bu Irfan (saya ga tau nama istrinya jadi saya sebut saja begitu). Saya mengenal keduanya kurang lebih dua pekan yang lalu, saat Pak Irfan ayahnya meminta saya untuk membimbing dua putranya tersebut untuk menghafal Al-Qur’an. “Akhi saya berniat akan memasukkan Kholis dan Kholas ke Ma’had Tahfidz jika keduanya sudah lulus SD nanti” kata beliau kepada saya. “Lho memangnya kenapa Pak? Ko ga masuk ke umum aja, kan di Madiun banyak  SMP favorit?” tanya saya kepada beliau penasaran. “Wah kalau masuk umum saya  khawatir Akhi, selain materi agama yang sangat minim juga pergaulan di sana yang “mengerikan” lah wong saya juga mengajar bahasa inggris di SMA 3 Madiun jadi ya saya tahu bagaimana pergaulan siswa di sekolah-sekolah semacam itu” jawab beliau. “Dan kalau untuk masalah duniawi/pekerjaan itu ga saya khawatirkan, toh kebutuhan perut kita tiap hari kan cuma segini (beliau mengisyaratkan sambil mengepalkan tangannya) dan kita tidak pernah tahu apakah besok kita masih hidup atau ga” lanjut beliau.  Subhanallah sebuah keinginan, semangat dan ruhul jihad yang mulia lagi joss yang sangat jarang kita temui pada zaman sekarang ini Mas Broe.

Pak Irfan dan Bu Irfan kesehariannya aktif dirumahnya sendiri sebagai pengajar bahasa inggris, itu karena rumah tempat mereka berdua tinggal disulap menjadi tempat kursus bahasa “dusta” tersebut bernama “Sibford” (mbuh saya ga tahu artinya). Sedangkan dua putranya adalah siswa kelas empat di SD Islamiyah Madiun.

Saat pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah Pak Irfan, aura religi benar-benar sangat terasa di rumah yang berukuran sedang itu. Entah mengapa, tapi memang itu yang saya rasakan. Padahal rumahnya biasa saja dan sederhana, dindingnya polos tak berhias kaligrafi ataupun lukisan selain logo Sibford yang terpampang di ruang kursus, tak terdengar pula alunan “musik islami” di dalamnya. Subhanallah sepertinya sinyalemen keluarga yang penuh barokah sangat kuat terasa di rumah itu.

Sahabat fillah sekalian..

Setelah berbincang sedikit dengan Pak Irfan akhirnya kita berdua sepakat hari jum’at ba’da jum’atan dan ahad sore ba’da ashar untuk privat tahfidz Kholis dan Kholas. Alih-alih beliau meminta saya membingbing tahfidz dua putra kecilnya, eehh., beliau malah sekalian minta belajar bahasa arab sama saya. “Mas kalau bisa sekalian saya mau belajar bahasa arab, katanya kan di surga nanti orang-orangnya pakai bahasa arab” kata beliau, saya hanya tersenyum mendengar perkataan itu. “Yo wis sekalian aja bapak sama anake tek privat” kata saya dalam hati xixixi.

Kholis daan Kholas dua pelita kecil yang sangat menyejukkan hati dan membuat iri siapa saja yang melihatnya. Betapa tidak, di usia mereka yang masih sangat belia (mungkin sekitar 9-10 tahunan untuk anak usia kelas empat SD), syiar-syiar islam sudah sangat nampak terlihat dari keduanya. Shalat berjama’ah yang selalu dijaga, celana yang tak isbal, bacaan Al-Qur’an yang cukup lumayan (untuk anak seusia mereka), akhlak dan peilaku yang sopan, tertib, rajin, disiplin, patuh. Hampir semua sifat-sifat terpuji terkumpul bersama mereka.

Setiap kali saya datang ke rumah, mereka selalu saja sudah siap dan stanby di depan pintu dengan dua mushaf mungilnya, lalu mereka pun mengantarkan saya masuk ke rumah menuju ruang belajar. Setelah hamdalah dan shalawat saya pun memulai pelajaran, dan subhanallah betapa beruntungnya Pak Irfan dan Bu Irfan memiliki dua putra kembar seperti mereka; selama pelajaran berlangsung mereka mengikuti dengan penuh semangat dan antusias, dengan cepat mereka menghafal surat-surat yang ada pada juz ‘amma, tidak sedikitpun mereka menampakkan wajah bosan dan lelah apalagi sampai berulah. Sepertinya Allah benar-benar telah menjadikan keduanya sebagai penyejuk hati (qurrata a’yun) bagi orang tuanya. Allah berfirman:

والذين يقولون ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما

Artinya: “Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Sahabat fillah sekalian..

Terus terang saya sendiri merasa benar-benar iri pada keluarga kecil nan sederhana itu, masa kecil saya benar-benar jauh dengan keadaan Kholis dan Kholas. Ada rasa sesal di dada, namun bagaimanapun juga tidak ada kata terlambat untuk belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik, toh Allah sudah mengatur taqdir kita semenjak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi (seinget saya gitu pas pelajaran tauhid dulu) ^_^.

Sahabat fillah.. Sekian dulu cerita saya, semoga ini bisa menjadi bahan muhasabah/introspeksi diri bagi kita semua.




         

Rabu, 07 Maret 2012

Semangat Membara Di Usia Senja




Pak Muji, begitulah sapaan akrab beliau. Saya mengenal beliau secara pribadi kurang lebih enam bulan lalu saat saya sedang mengadakan privat bahasa arab untuk keponakan salah satu wali santri di sini. Kebetulan rumah Pak Muji tidak jauh dari privatan saya tersebut, kami bertemu di mushala untuk shalat manghrib dan saat itu lah saya mengenalnya.

Nampaknya Pak Muji begitu antusias terhadap saya (PeDeNe Yo., ^_^). Semenjak perkenalan itu beliau banyak sekali bercerita tentang kehidupannya, mulai masa kecilnya hingga usianya kini yang tak lagi muda (sekitar 66 tahun). Selain itu beliau juga sering mengutarakan keinginannya untuk belajar mengenal agama dengan lebih baik terutama membaca Al-Qur’an. Maklum lah semasa hidupnya beliau banyak habiskan untuk urusan dunia dan kurang memperhatikan bekal menuju akhirat nanti, mungkin karena faktor lingkungan atau memang tidak ada yang mengajarinya saat itu, wallahua’lam. “Mas saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya, dan saya ingin menemukannya kembali sebagai bekal saya nanti” kurang lebih begitulah penuturan beliau. “Wow bakalan ada income lagi nih tiap bulan” begitulah syaitan membisikkan rayuannya saat itu kepada saya.

Setelah menentukan waktu akhirnya kami sepakat untuk belajar bersama pada hari rabu dan sabtu pagi. Sebenarnya kalau untuk belajar ngaji pertemuan dua kali dalam sepekan sangatlah kurang, tapi tak apalah, ada kemauan belajar dari seorang pensiunan seperti Pak Muji saja sudah merupakan hal luar biasa dan lampu hijau untuk memulai berdakwah. Bayangin aja Mas Broe jarang loh ada orang berusia senja dan sering sakit-sakitan yang berkeinginan kuat seperti beliau, coba lihat aja orang-orang tue di sekeliling kita.

Sebenarnya ada beberapa hal yang memicu semangat beliau untuk belajar. Di usia pensiunnya kini beliau aktif memakmurkan mushala kecil yang tepat berada di depan rumahnya, mulai sebagai muadzin, bersih-bersih, masalah keamanan hingga menjadi imam dengan “terpaksa”. Pasalnya Mas Broe orang-orang yang berada di sekitar Pak Muji tinggal itu kalau belum mendengar adzan mereka ga bakalan dateng ke masjid (kayaknya di mana-mana sama aje ye). “Yah Mas, kalau bukan kita yang bergerak siapa lagi?” Tutur beliau. “Terlebih lagi jika saya sudah adzan dan jama’ah sudah berkumpul eeh imam rowatibnya ga dateng, jadi akhirnya saya terpaksa jadi imamnya lah wong di antara mereka ga ada yang mau.”

Setelah kurang lebih dua bulan belajar kini Pak Muji sudah sampai pada pertengahan jilid tiga buku Iqro, subhanallah sebuah prestasi yang luar biasa bukan?

Sahabat fillah sekalian,. Hayoo malu dunk kalau kita  yang masih muda malah mlempem semangatnya dalam mempelajari agama, terutama membaca Al-Qur’an?  Sudah berapa banyak Al-Qur’an yang kit abaca setiap hari? Satu juz, setengah juz, tiga lembar, satu lembar? Atau jangan-jangan Al-Qur’an yang ada di rumah kita cuma sekedar pajangan lemari kaca? Atau malah jangan-jangan di antara kita masih ada yang belum bisa baca Al-Qur’an?
Wah rugi dunk Mas Broe kita sebagai seorang muslim yang mengakui Al-Qur’an sebagai dasar agamanya malah sangat minim berinteraksi dengannya.

Sahabat fillah sekalian, membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya memiliki banyak sekali keutamaan, banyak sekali hadits-hadits Rasulullah yang menjelaskan tentang hal tersebut, di antaranya:

1.      Al-Qur’an menjadi syafaat bagi para pembacanya pada hari kiamat. Nabi Muhammad bersabda:
اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة لأصحابه

Artinya: “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi para pembacanya.” (HR. Muslim: 804)

2.      Sebaik-baik manusia adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasulullah bersabda:

خيركم من تعلم القرآن وعلمه

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari: 5027)

Baik mempelajari secara lafadz (bacaan/hafalan) maupun mempelajarinya secara makna (tafsir).

3.      Orang yang pandai membaca Al-Qur’an disejajarkan dengan para malaikat, sedangkan orang yang kesulitan ketika membacanya maka baginya dua pahala.

الذي يقرأ القرآن وهو ماهر به مع السفرة الكرام البررة, والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران

Artinya: “Seseorang yang pandai bacaan Al-Qur’annya maka ia bersama para utusan yang mulia lagi berbakti (malaikat), sedangkan seseorang yang membacanya, kemudian ia tersendat-sendat di dalamnya dan membaca Al-Qur’an terasa berat baginya maka ia (tetap) memperoleh dua pahala.” (Muttafaq ‘Alaih, Al-Bukhari: 4937, Muslim: 798)

Lihatlah sahabat fillah, betapa mulianya mempelajari Al-Qur’an, sampai-sampai orang yang merasa berat atau kesulitan membacanya pun tetap mendapat dua pahala, yaitu pahala membaca dan pahala karena ia berjuang melawan kesulitannya. Subhanallah..

Baiklah sahabat fillah sampai di sini dulu cerita saya, semoga kita bisa mengambil manfaat dari tulisan ringkas ini dan selamat mempelajari Al-Qur’an.. ^_^